Benarkah Jama’ah Tabligh berjalan di atas Manhaj Ahlusunnah?

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Pertanyaan: Jama’ah tabligh -sebagai contoh- mengatakan “kami ingin berjalan di atas manhaj ahlussunah wal jama’ah” akan tetapi sebagian mereka terkadang melakukan kesalahan. Kemudian mereka berkata “bagaimana kalian menghukumi kami (sesat, pent) dan mentahdzir kami?”

Jawab:

Telah ditulis tentang jama’ah tabligh oleh orang yang pergi dan terjun langsung bersama mereka. Orang-orang tersebut banyak menulis tentang mereka dan menyebutkan kesalahan-kesalahannya. Maka semestinya kalian membaca perihal mereka sehingga menjadi jalas bagi kalian hukum dalam masalah ini.[25] Alhamdulillah Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan kita tidak butuh mengikuti fulan dan fulan. Bagi kita cukup jalan ahlussunah wal jama’ah yang selalu kita pegang sehingga kita tidak butuh lagi dari jama’ah tabligh atau selainnya. Maka tidak ada lagi setelah kebenaran melainkan kesesatan.

Adapun hakikat jama’ah tabligh maka telah banyak ditulis karya tentang mereka. Telaahlah karya-karya tersebut niscaya kalian akan mengetahuinya dan orang-orang yang menulis tentang jama’ah tabligh adalah mereka yang telah pergi dan bergaul bersama mereka sehingga apa yang mereka tulis itu benar-benar berdasarkan pengetahuan dan bukti. Continue reading

Advertisements

Haruskah kita menyebutkan kebaikan orang yang kita tahdzir?

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Pertanyaan: Apakah mengharuskan kita, menyebutkan kebaikan orang yang kita tahdzir (orang yang kita peringatkan agar manusia menjauhinya, pent.)?

Jawab:

Jika kamu sebutkan kebaikan mereka artinya kamu sedang mengajak untuk mengikuti mereka. Jangan, jangan kamu sebutkan kebaikan mereka.[23] Sebutkan kesalahan yang ada pada mereka saja[24] karena tidak ada kewajiban atasmu untuk merekomendasi perbuatan mereka. Kamu hanyalah berkewajiban menerangkan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat dari perbuatannya dan agar manusia waspada darinya. Kesalahan yang ada pada mereka barangkali melenyapkan semua kebaikannya jika kesalahan ltu berupa kekafiran atau kesyirikan dan terkadang kesalahan mereka lebih besar daripada kebaikannya. Terkadang juga kebaikan itu hanya menurut pandanganmu saja tapi bukan kebaikan menurut Allah ‘Azza wa Jalla. Continue reading

Peringatan dari kelompok-kelompok dan partai-partai masa kini

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Pertanyaan: Apakah ada larangan dalam memperingatkan manusia dari kelompok-kelompok yang menyelisihi manhaj ahlussunnah ini?

Jawab:

Secara umum kita memperingatkan setiap orang yang menyimpang[22] dan kita katakan; kita konsekuen dengan jalannya ahlussunnah dan meninggalkan orang yang menyelisihinya, sama saja apakah penyelisihan itu besar atau kecil, karena apabila kita meremehkan suatu penyelisihan barangkali perkaranya akan berkembang dan bertambah besar. Maka penyelisihan selamanya tidaklah diperbolehkan. Dan wajib tetap konsekuen berpegang dengan jalan ahlussunnah wal jama’ah dalam menyikapi setiap penyelisihan yang besar maupun kecil. Continue reading

Apakah boleh bergaul dengan kelompok-kelompok dan partai-partai masa kini

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Pertanyaan: Apakah jama’ah-jama’ah tersebut boleh diajak bergaul atau bahkan harus diboikot?

Jawab:

Bergaul dengannya, jika bertujuan untuk mendakwahi mereka -bagi orang yang mempunyai ilmu dan bashiroh (ilmu dan keyakinan, pent.)[20]- untuk berpegang dengan sunnah dan meninggalkan kesalahan maka ini baik dan termasuk dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun jika bergaul bersama mereka untuk tujuan beramah-tamah dan persahabatan dengan mereka tanpa berdakwah dan menjelaskan (yang benar, pent.) maka ini tidak boleh.

Oleh karenanya tidak boleh bagi seseorang untuk bergaul bersama orang-orang yang menyimpang kecuali apabila ada manfaat yang syar’i seperti mendakwahi mereka kepada Islam yang benar dan menerangkan kebenaran, barang kali mereka akan kembali[21] sebagaimana Ibnu Mas’ud pergi menemui ahli bid’ah yang berada di masjid kemudian beliau berdiri di hadapan mereka dan mengingkari bid’ahnya. Juga Ibnu Abbas yang pergi menemui orang-orang khawarij, mengajak mereka berdiskusi dan membantah syubhat-syubhat mereka sehingga sebagian dari mereka kembali kepada kebenaran. Continue reading

Tentang jama’ah-jama’ah dengan hukum yang umum

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Pertanyaan: Apa pendapat anda tentang jama’ah-jama’ah dengan hukum yang umum?

Jawab:

Setiap orang yang menyelisihi jama’ah ahli sunnah maka dia adalah orang yang sesat. Tidak ada menurut kami kecuali hanya satu jama’ah, yaitu ahlussunnah wal jama’ah[19] dan siapa saja yang menyelisihi jama’ah ini maka ia telah menyelisihi manhaj rasul.

Kami katakan juga setiap orang yang menyelisihi ahlussunnah wal jama’ah maka ia termasuk ahli ahwa’/ bid’ah. Penyelisihan itu berbeda tingkat kesesatan dan kekafirannya sesuai dengan besar kecil dan jauh dekatnya dengan kebenaran. Continue reading

Apakah orang yang menisbatkan diri kepada salah satu jama’ah dianggap sebagai ahli bid’ah?

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Pertanyaan: Apakah orang yang menisbatkan diri kepada salah satu jama’ah dianggap sebagai ahli bid’ah?

Jawab:

Hal ini tergantung dengan jama’ahnya. Jama’ah yang padanya terdapat penyelisihan terhadap kitab dan sunnah, maka orang yang menisbatkan diri kepadanya dianggap sebagai ahli bid’ah.[18] Continue reading

Bid’ah Lebih Berbahaya dari pada Maksiat

Pertanyaan: Mana yang lebih keras siksanya, pelaku maksiat atau ahli bid’ah?

Jawab:

Ahli bid’ah lebih keras siksanya, karena perbuatan bid’ah lebih besar dari sekedar maksiat. Bid’ah lebih disenangi oleh syaithan daripada maksiat karena pelaku maksiat mudah untuk bertaubat.[14] Adapun ahli bid’ah maka jarang sekali yang bertaubat karena ia menyangka berada di atas kebenaran berbeda dengan pelaku maksiat, ia mengetahui bahwa ia seorang yang bermaksiat. Adapun ahli bid’ah maka ia meyakini sebagai seorang yang taat dan sedang melakukan ketaatan. Maka dari itu perbuatan bid’ah –wal’iyadzubillah-lebih jelek dari maksiat. Oleh karenanya ulama salaf selalu memperingatkan (agar menjauh) dari bermajlis bersama ahli bid’ah,[15] karena mereka akan mempengaruhi orang yang duduk bersamanya, sementara bahaya mereka sangatlah besar. Continue reading